Fenomena seperti ini adalah segala sesuatu yang menampakkan
diri. Dalam praktik hidup sehari-hari, tidak memperhatikan penampakkan itu, apa
yang dilihat secara spontan sudah cukup meyakinkan bahwa objek yang dilihat itu
adalah real atau nyata. Kita telah meyakininya sebagai realitas diluar. Akan
tetapi, karena yang dituju oleh fenomenologi adalah realitas dalam arti yang
ada diluar dirinya, dan ini hanya dapat dicapai dengan “mengalami” secara
intuitif, apa yang dianggap sebagai realitas dalam pandangan biasa itu, utuk
sementara harus ditinggalkan atau dibuat dalam kurung. Segala subyektifitas
disingkirkan.
Termasuk di dalam hal ini teori, kebiasaan, dan
pandangan yang telah membentuk pikiran memandang sesuatu (fenomena). Sehingga
yang timbul di dalam kesadaran adalah fenomena itu sendiri. Oleh karena itu,
reduksi ini disebut reduksi fenomenologi yang pertama merupakan pembersih diri
dari segala subyektifitas yang dapat mengganggu perjalanan mencapai realitas.
Telah disebutkan bahwa objek filsafat adalah menelaah hakikat tentang Tuhan, tentang manusia dan tentang segala realitas yang nampak di hadapan manusia. Ada beberapa persoalan yang biasa dikedepankan dalam mencari objek filsafat meskipun akhirnya tidak akan lepas dari ketiga hal itu, yaitu: 1. Dari apakah benda-benda dapat berubah menjadi lainnya, seperti perubahan oksigen dan hidrogen menjadi air? 2. Apakah jaman itu yang menjadi ukuran gerakan dan ukuran wujud semua perkara? 3. Apakah bedanya makhluk hidup dengan makhluk yang tidak hidup? 4. Apakah ciri-ciri khas makhluk hidup itu? 5. Apa jiwa itu? Jika jiwa itu ada, apakah jiwa manusia itu abadi atau musnah? 6. Dan masih ada lagi pertanyaan-pertanyaan lain. Persoalan-persoalan tersebut membentuk ilmu fisika dan dari sini kita meningkat kepada ilmu yang lebih umum ialah ilmu metafisika, yang membahas tentang wujud pada umumnya, tentang sebab wujud, tentang sifat zat yang mengadakan...
Komentar
Posting Komentar