Langsung ke konten utama

Hubungan Filsafat Dengan Psikologi

Filsafat adalah hasil akal manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya.Dalam penyelidikannya,filsafat memang berangkat dari apa yang dialami manusia,karna tidak ada pengetahuan jika tidak bersentuhan dahulu dengan indra,sedangkan ilmu yang hendak menelaah hasil pengindraan itu tidak mungkin mengambi lkeputusan dengan menjalankan pikiran,tanpa menggunakan dalil dan hukum pikiran yang tidak mungkin dialaminya,bahkan ilmu dengan amat tenang menerima sebagai kebenaran bahwa pikiran manusia itu ada serta mampu mencapai kebenaran.,dan tidak pernah di selidiki oleh ilmu.Sampai dimana dan bagaimana budi manusia dapat mencapai kebenaran itu.
    Filsafat memerlukan data dari ilmu,jika ahli filsafat manusia hendak menyelidiki adakah manusia itu,iya harus mengetahui gejala tindakan manusia.Dalam hal ini,ilmu yang bernama psikologi akan menolong filsafat dengan sebaik-baiknya dangan hasil penelitiannya.Kesimpulan filsafat tentang kemanusiaan,akan sangat pincang dan mungkin jauh dari kebenaran jika tidak menghiraukan hasil psikologi,sebagai litorator disebutkan,sebelum menjadi disiplin ilmu yang mandiri,psikolgi memiliki akar-akar yang kuat dalam ilmu kedokteran dan filsafat yang hingga sekarang masih Nampak penagruhnya.Dalam ilmu kedokteran,psikologi berperan menjelaskan apa-apa yang terfikir dan terasa oleh organ-organ biologis(Jasmaniah).
    Adapun dalam filsafat yang sebenarnya ibu kandung psikologi itu berperan serta dalam memecahkan masalah-masalah rumit yang berkaitan dengan akal,kehendak,dan pengetahuan.
(Drs.ALEX SOBUR,M.S.I.)
    Dalam metode filsafat biasanya mengembangkan metode fenomenologi sebagai alternative pendkatan dalam ilmu psikologi.
    Filsafat juga bisa mengangkat asumsi-asumsi yang terdapat dalam ilmu psikologi.
    Dalam konteks perkembangan psikologi social filsafat juga bisa memberikan wacana maupun sudut pandang baru dalam bentuk teori-teori social dalam bentuk refleksi teori-teori social kontemporer.
filsafat itu mempertanyakan jawaban, sedangkan psikologi menjawab pertanyaan (masalah). jadi dengan berfilsafat, psikolog mendapatkan solusi dari permasalahan kliennya, karena terus diberikan pertanyaan, kenapa...mengapa...alasannya apa.. terus begitu sampai akhirnya ada kesimpulan dari pertanyaan (permasalahan) itu.
ketika seseorang udah mampu mempertanyakan siapa dirinya, bagaimana dirinya terbentuk, bagaimana posisi dirinya di alam semesta ini, itu berarti orang tersebut sudah berfilsafat ke taraf yang paling tinggi. Untuk itu dibutuhkan perenungan, karena klo didiskusikan, bisa jadi orang lain nganggep kita gila, karena itu adalah insight, dan tidak semua org bisa dapet insight.
dengan melihat Ciri-ciri Berpikir Filsafat:
Radikal; sampai ke akar persoalan
Kritis; tanggap thd persoalan yg berkembang
Rasional; sejauh dpt dijangkau akal mns
Reflektif; mencerminkan pengalaman pribadi.
Konseptual; hasil konstruksi pemikiran
Koheren; runtut, berurutan.
Konsisten; berpikir lurus/tdk berlawanan.
Sistematis; saling berkaitan.
Metodis; ada cara utk memperoleh kebenaran.
Komprehensif; menyeluruh Bebas & bertanggungjawab
tidakkah kita melihat bahwa subjek kajian psikologi adalah manusia. kita menangkap manusia tidak hanya melalui proses pengindraan: mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, dan bla-bla-bla dan pada akhirnya kita tahu dan menangkap (persepsi) apa itu manusia? punya mata, punya telinga, berfikir, punya emosi, dll berdasarkan gambaran (persepsi) sederhana yang kita pelajari secara awam tanpa harus mengkritisi apa yang terjadi dengan sensasi mengenai pengindraan.
diluar itu dalam ranah psikologi itu sendiri mempelajari tingkah laku manusia. bicara mengenai tingkah laku manusia banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari aksi/penilaian pengindraan kita: "bagaimana dia bisa seperti itu?" bagaimnana sebab-sebabnya?, pencegahannya", ? dan bla-bla-bla. jadi, awalilah dengan filsafat umum dan berlanjut pada filsafat manusia selanjutnya terserah mau dibawah kemana aliran yang match dengan pengalaman. Ok!.
kami pernah mengatakan:
filsafat adalah aplikasi dari suatu program (game adven misalnya) dan bagaimana menjalankannya (memenangkannya, melintasi rintangan, dll) adalah psikologi. jadi filsafat adalan game yang seru dan membaca manusia sebagai tantangannya. INGAT! BERTANGGUNG JAWAB. 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aliran Realisme Dalam Filsafat Pendidikan

Aliran Realisme adalah aliran filsafat yang memandang  realitas sebagai dualitas. Aliran realisme memandang dunia ini mempunyai hakikat realitas yang terdiri dari dunia fisik dan dunia rohani . Hal ini berbeda dengan filsafat aliran idealisme yang bersifat monistis yang memandang hakikat dunia pada dunia spiritual semata. Dan juga berbeda dari aliran materialisme yang memandang hakikat kenyataan adalah kenyatan yang bersifat fisik semata. A.     Pendahuluan Realisme membagi realistas menjadi dua bagian yaitu subjek yang menyadari dan mengetahui di satu pihak dan yang kedua adanya realita di luar manusia yang dapat dijadikan objek pengetahuan manusia. Kneller (1971) membagi Realisme menjadi dua bentuk, yaitu yaitu rational realism ( Realisme R asional ) dan Natural realism (Realisme N aturalis ) . Menurut aliran realisme, p endidikan merupakan suatu proses untuk meningkatkan diri guna mencapai yang abadi.  B.    Implikas...

Sejarah, Tokoh dan Jenis Aliran Empirisme

Aliran empirisme ini dipelopori oleh John Locke, filosof Inggris yang hidup pada tahun 1632-1704. Gagasan pendidikan Locke dimuat dalam bukunya “Essay Concerning Human Understanding” . Aliran empirisme dibangun oleh Francis Bacon (1210-1292) dan Thomas Hobes (1588-1679), namun mengalami sistematisi pada dua tokoh berikutnya, John Locke dan David Hume. Tokoh-tokoh penting dalam aliran empirisme : Jhon Locke Lahir di kota Wringtone Kota Somerset Inggris tahun 1632 (meninggal tahun 1704) David Hume Lahir di Edinburg, Skotlandia pada 1711. Ia menempuh pendidikan di kota kelahirannya. Francis Bacon Francis Bacon (1561-1626), lahir di London di tengah-tengah keluarga bangsawan Sir Nicholas Bacon. Jenis Aliran Empirisme dan Penerapan Aliran Empirisme Empirisme Kritis Disebut juga Machisme. Sebuah aliran filsafat subyaktif-idealistik. Aliran ini didirikan oleh Avenarius dan Mach. Inti aliran ini adalah ingin “membersihkan” pengertian pengalaman d...

Filsafat Pancasila versi Soeharto

Oleh Suharto filsafat Pancasila mengalami Indonesiasi. Melalui filsuf-filsuf yang disponsori Depdikbud, semua elemen Barat disingkirkan dan diganti interpretasinya dalam budaya Indonesia, sehingga menghasilkan “Pancasila truly Indonesia”. Semua sila dalam Pancasila adalah asli Indonesia dan Pancasila dijabarkan menjadi lebih rinci (butir-butir Pancasila). Filsuf Indonesia yang bekerja dan mempromosikan bahwa filsafat Pancasila adalah truly Indonesia antara lain Sunoto, R. Parmono, Gerson W. Bawengan, Wasito Poespoprodjo, Burhanuddin Salam, Bambang Daroeso, Paulus Wahana, Azhary, Suhadi, Kaelan, Moertono, Soerjanto Poespowardojo, dan Moerdiono. Berdasarkan penjelasan diatas maka pengertian filsafat Pancasila secara umum adalah hasil berpikir/pemikiran yang sedalam-dalamnya dari bangsa Indonesia yang dianggap, dipercaya dan diyakini sebagai sesuatu (kenyataan, norma-norma, nilai-nilai) yang paling benar, paling adil, paling bijaksana, paling baik dan paling sesuai bagi bangsa Indon...