Langsung ke konten utama

Reduksi Eidetis dengan Fenomenologi Transendental


Eidetis berasal dari kata “eidos” yaitu intisari. Reduksi Eidetis adalah penyaringan atau penempatan di dalam kurung segala hal yang bukan eidos, intisari atau realitas fenomen. Dengan reduksi eidetis, semua segi, aspek, dan profil dalam fenomena yang  hanya kebetulan disampingkan. Karena, aspek dan profil tidak pernah menggambarkan objek secara utuh. Setiap objek adalah kompleks, mengandung aspek dan profil yang tiada terhingga.
      Hakikat (realitas) yang dicari dalam hal ini adalah struktur dasar yang meluputi isi fundamental dan semua sifat hakiki. Untuk menentukan apakah sifat-sifat tertentu adalah hakikat atau bukan, Husserl memakai prosedur mengubah contoh-contoh. Ia menggambarkan contoh-contoh tertentu yang representatif melukiskan fenomena. Kemudian, dikurangi atau ditambah salah satu sifat. Pengurangan atau penambahan yang tidak mengurangi atau menambah makna fenomena dianggap sifat-sifat yang hakiki.
      Reduksi Eidetis menunjukkan bahwa dalam fenomenologi, Kriteria koherasi beralaku. Artinya pengamatan-pengamatan yang beruntun terhadap objek harus dapat disatukan. Pada umumnya, pengikut-pengikutnya menyetujuai idealisme Husserl, hanya sepaham dengan Husserl pada tahap awal dari perkembangan pemikirannya. Pendekatan fenomenologis yang diambil oleh pengikut-pengikutnya tidak termasuk reduksi terakhir yang menimbulkan idealisme transcendental.
      Proses reduksi itu apabila disederhanakan dapat disebut sebagai memandang sesuatu secara menyeluruh dari berbagai seginya. Artinya,  tidak dengan mudah menerima pengertian dan rumusan seperti itu, atau pemahaman kita yang sepontan terhadap sesuatu belum tentu menyentuh hakikat dari apa yang akan dituju. Yang demikian hanyalah pandangan pertama. Kemudian harus melakukan pandangan kedua, meninggalkan segala tabir yang menghalangi dalam menemukan hakikat objek, dan kembali kepada objek secara langsung.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Objek Filsafat Islam

Telah disebutkan bahwa objek filsafat adalah menelaah hakikat tentang Tuhan, tentang manusia dan tentang segala realitas yang nampak di hadapan manusia. Ada beberapa persoalan yang biasa dikedepankan dalam mencari objek filsafat meskipun akhirnya tidak akan lepas dari ketiga hal itu, yaitu: 1. Dari apakah benda-benda dapat berubah menjadi lainnya, seperti perubahan oksigen dan hidrogen menjadi air? 2.  Apakah jaman itu yang menjadi ukuran gerakan dan ukuran wujud semua perkara? 3.   Apakah bedanya makhluk hidup dengan makhluk yang tidak hidup? 4.   Apakah ciri-ciri khas makhluk hidup itu? 5.   Apa jiwa itu? Jika jiwa itu ada, apakah jiwa manusia itu abadi atau musnah? 6.   Dan masih ada lagi pertanyaan-pertanyaan lain. Persoalan-persoalan tersebut membentuk ilmu fisika dan dari sini kita meningkat kepada ilmu yang lebih umum ialah ilmu metafisika, yang membahas tentang wujud pada umumnya, tentang sebab wujud, tentang sifat zat yang mengadakan...

Aliran Realisme Dalam Filsafat Pendidikan

Aliran Realisme adalah aliran filsafat yang memandang  realitas sebagai dualitas. Aliran realisme memandang dunia ini mempunyai hakikat realitas yang terdiri dari dunia fisik dan dunia rohani . Hal ini berbeda dengan filsafat aliran idealisme yang bersifat monistis yang memandang hakikat dunia pada dunia spiritual semata. Dan juga berbeda dari aliran materialisme yang memandang hakikat kenyataan adalah kenyatan yang bersifat fisik semata. A.     Pendahuluan Realisme membagi realistas menjadi dua bagian yaitu subjek yang menyadari dan mengetahui di satu pihak dan yang kedua adanya realita di luar manusia yang dapat dijadikan objek pengetahuan manusia. Kneller (1971) membagi Realisme menjadi dua bentuk, yaitu yaitu rational realism ( Realisme R asional ) dan Natural realism (Realisme N aturalis ) . Menurut aliran realisme, p endidikan merupakan suatu proses untuk meningkatkan diri guna mencapai yang abadi.  B.    Implikas...

Sertifikat Seminar